Tampilkan postingan dengan label Kerusuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerusuhan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 26 Mei 2011
Orang-orang Berseragam Memperkosa gadis-gadis China Indonesia
Orang2 berseragam memperkosa gadis2 China
Organisasi2 Wanita mendokumentasikan penganiayaan seksual
selama kerusuhan di Indonesia / ABRI menjanjikan penyelidikan .
Oleh Juergen Dauth (Singapura)
Para pengamat hak azasi manusia dan organisasi2 wanita di Indonesia
sudah mulai mendokumentasi kasus2 pemerkosaan selama kerusuhan
yang mengakibatkan kejatuhan Suharto. "Kerusuhan itu direncanakan,
dikendalikan, dan disengaja", demikian kata pekerja sosial Sita Kayam
dengan marah. Ia adalah seorang rekan kerja sebuah oraganisasi
wanita di Jakarta. Ratusan wanita telah diperkosa selama kerusuhan
sekejap yang melanda ibukota, juga di kota2 provinsi.
Menurut dokumentasi, korban2 yang mayoritas adalah etnis China
itu mengatakan bahwa pemerkosa2 itu kebanyakan mengenakan
seragam. "Para pemerkosa itu mengatakan, 'Sekarang giliran kamu,
karena kamu China dan bukan Muslim' ", demikian kata seorang
korban menurut psikolog Yayasan Kalyana Mitra.
Segala bentuk kekerasan seksual yang selama ini hanya kita bisa
bayangkan, kini benar2 terjadi, kata Sita Kayam. "Dan kami jadi
yakin kalau ini semua bukan kebetulan. Semua kegiatan mempermalukan
perempuan ini direncanakan dan diorganisasi dengan sekasama."
Ratusan korban telah mengadu ke organisasi2 wanita.
"Rumah saya terbakar, " cerita Helen Chang dengan ragu2. "Kami
menyelamatkan diri ke halaman. Saat itu datang beberapa laki2. Mereka
mengenakan kaos dan celana seragam. Mereka membanting saya ke tanah
lalu mereka satu per satu memperkosa saya." Kemudian, kata ibu berusia
44 tahun ini, tanpa daya ia harus melihat bagaimana ketiga anak
perempuannya diperkosa.
Para perkerja sosial di klinik2 psikologi dan organisasi2 wanita
bersama2 mendapatkan gambaran yang cukup serupa. Kebanyakan
korban, 98% adalah etnis China, diperkosa antara 13 - 15 Mei
juga 18 - 19 Mei. Para pelaku, menurut laporan, berpotongan
rambut ala militer dan mengenakan bagian2 dari pakaian seragam militer.
Mereka selalu muncul dalam bentuk kelompok2. Jumlah perkosaan di
kota2 di luar Jakarta baru pada saat itu meningkat.
Para psikolog di pusat2 pertolongan untuk korban perkosaan
berusaha susah payah agar para korban yang trauma mau
berbicara. "Kebanyakan wanita2 dan gadis2 mengalami perlakuan
yang terlalu kasar dan mereka takut para pelaku membalas dendam."
kata Rita Kolibonso dari organisasi wanita Mitra Perempuan.
Di antara korban terdapat yang berusia 13 tahun dan 72 tahun.
Komandan Polisi Jakarta Pusat, Lettu Iman Haryatnam telah meminta
pada para korban kekerasan seksual ini untuk melapor. Panglima
ABRI, Jendral Wiranto menjanjikan suatu penyelidikan dengan cara
mengajukan rencana pembuatan pos2. Para pemerkosa tampaknya
tahu bahwa suatu penyelidikan tengah dimulai. Romo Sandyawan
dari badan sosial katholik di Jakarta mendapat kiriman pos sebuah
granat tangan dan tulisan agar ia menghentikan kegiatan dokumentasi.
Organisasi2 hak azasi manusia mendapat peringatan melalui telepon:
"Kami sudah mengirimi Sandyawan sebuah granat. Kamu mau lebih
banyak?"
Sandyawan sudah mempublikasikan data di antaranya, wanita2 yang
diperkosa lalu dilemparkan ke dalam bangunan yang tengah dilalap
api. Albert Hasibuan, anggota Komnas HAM bersumpah akan mengusut
pelanggaran berat HAM ini sampai tuntas. "Kami tidak bisa membiarkan
kejahatan ini tidak mendapat hukuman, bahwa kita manusia karena motif
politik jadi bertingkah laku lebih rendah dari binatang."
Copyright A9 Frankfurter Rundschau 1998
Dokumen disiapkan pada 11.06.1998 jam .45
Tanggal penyiaran 12.06.1998
Dokumen disiapkan pada 11.06.1998 jam .45
Tanggal penyiaran 12.06.1998
PEMERKOSAAN PEREMPUAN ETNIS CINA DI JAKARTA
http://www.fica.org/cs/rn-mayriot-id
From owner-berita@LISTSERV.RNW.NL
Mon Jun 8 12:50:52 1998
Date: Mon, 8 Jun 1998 17:40:07 +0100
From: RNW berita list manager
Reply-To: berita-request@RNW.NL
To: BERITA@RNW.NL
Subject: Warta Berita - Radio Nederland, 08 June 1998
* PEMERKOSAAN PEREMPUAN ETNIS CINA DI JAKARTA
Etnis Cina dan perempuan adalah target paling lemah dan mudah dituju.
Puluhan atau bahkan mungkin ratusan perempuan etnis Cina menjadi korban
pelecehan seksual dan perkosaan yang terjadi ketika rumah-rumah atau
toko-toko mereka dibakar dan dijarah pada tanggal 13 dan 14 Mei dulu di
Jakarta. Begitu biadabnya para pelaku seolah mereka sudah tidak memiliki
rasa perikemanusian sedikitpun.
Para korban, tidak saja dilecehkan atau diperkosa, tapi ada pula yang
dicekik dan dibunuh. Sebagian korban mengalami gangguan jiwa sangat
serius. Mengingat para korban sangat trauma dan ketakutan untuk
mengungkapkan peristiwa yang menimpa mereka, maka para relawan bersikap
pro aktif, dengan mencari para korban, mengunjungi rumah sakit dan
membuka hotline. Sejauh ini, tim sudah mengidentifikasi sekitar 50
kasus.
Setiap harinya, sekitar dua puluh lima perempuan menilpun hotline
tersebut. Berikut sejumlah kasus pelecehan seksual dan perkosaan yang
telah diidentifikasi oleh Divisi Perempuan, yaitu kelompok relawan dari
berbagai LSM yang peduli terhadap nasib korban, dituturkan oleh
koordinatornya Ita Nadia.
Ketika para pegawai pulang naik bis didalam bis, penumpang di pilah-
pilah. Para penumpang Cina disuruh turun, disuruh membuka baju, dan
kemudian disuruh jalan berbaris. Mereka digiring ke padang ilalang
dipinggir jalan dan di pilah-pilah lagi. Yang berparas cantik diperkosa.
Sedangkan yang berparas tidak begitu cantik disuruh berjalan telanjang.
Modus berikutnya, perempuan-perempuan Cina secara ramai-ramai
ditelanjangi dijalan raya, kemudian tubuhnya digerayangi. Kami menemukan
putingnya ada yang sobek dan seluruh badan memar. Ada lagi pegawai bank.
Sebanyak sepuluh orang memasuki bank dan menutup bank tersebut. Para
pegawai Cina disuruh menari-nari dengan telanjang. Kemudian ada tiga
anak gadis dari keluarga Cina miskin yang diperkosa. Mereka berumur 10
sampai delapan belas tahun, diperkosa oleh tujuh orang disebuah tempat
di Jakarta Utara/Barat.
Yang berikutnya adalah sebuah keluarga yang kebetulan kakak perempuan
para korban mengaku kepada Ita Nadia bahwa dua adik perempuannya
diperkosa di lantai tiga rumah mereka oleh tujuh orang pula. Setelah
diperkosa, dua adik perempuan itu didorong ke lantai dua dan satu dimana
api telah berkobar, sehingga dua adik tersebut meninggal. Itu beberapa
kasus. Kasus-kasus lain, mereka biasanya diperkosa, kemudian dicekik.
Tetapi ada juga yang ketika diperkosa, korban kemudian membunuh diri.
Para korban ini tidak hanya diperkosa di vagina tetapi juga di dubur dan
diikuti pula dengan pengrusakan vagina. Itu dilakukan secara sistematis
karena tidak dilakukan oleh orang biasa. Secara politis, saya mau bilang
bahwa ini adalah perbuatan untuk menunjukkan "kalau kamu menuntut
reformasi dan demokrasi, ini adalah bagian yang harus kamu bayar. Dan
bagian yang harus kamu bayar adalah mengorbankan etnis Cina, dalam hal
ini adalah perempuan sebagai target untuk membangun sebuah teror atau
ketakutan di masyarakat untuk mengintimidasi masayarakat. Jadi
dipilihlah etnis Cina dan perempuan dan non muslim karena merekalah yang
paling lemah".
Tim relawan untuk kemanusian Divisi Perempuan sesungguhnya adalah tim
relawan untuk kemanusiaan yang lebih besar, yang dipimpin Romo
Sandyawan. Tim sudah melakukan identifikasi korban-korban kerusuhan yang
jumlahnya mencapai 1333. Sekarang, kami sungguh-sungguh sangat marah
karena perempuan dijadikan target atau obyek untuk mengintimidasi
masyarakat lewat kekerasan seksual. Ini adalah state violence.
RADIO NEDERLAND : Pesan apa yang ingin anda sampaikan kepada korban yang
sampai saat ini belum atau tidak berani mengungkapkan apa yang menimpa
dirinya.
ITA NADIA : Tolong, jangan takut karena membuka kebisuan adalah
membangun kesadaran. Breaking the silence. Para korban bisa langsung
menelpon nomor hotline, yaitu 021-790 2109 atau 021-790 2112. Kami akan
menjaga kerahasiaan baik para korban maupun informan. Sedangkan untuk
masyarakat luar negri, berilah dukungan. Dukungan dalam arti berkampanye
untuk mengutuk perbuatan ini. Bagaimanapun juga, mereka telahmasyarakat luar negri, berilah dukungan. Dukungan dalam arti berkampanye
didiskriminasi, secara politik didiskriminasi sebelumnya oleh pemerintah
dan sekarang mereka dikorbankan
-----------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.rnw.nl/
Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui ranesi@rnw.nl
Minggu, 15 Mei 2011
Kerusuhan Rasial Terhadap Etnis Tiong Hoa
Kerusuhan-kerusuhan yang menimpa etnis Tionghoa antara lain pembunuhan massal di Jawa 1946-1948, peristiwa rasialis 10 Mei 1963 di Bandung, 5 Agustus 1973 di Jakarta, Malari 1974 di Jakarta, Kerusuhan Mei 1998 di beberapa kota besar seperti Jakarta, Medan, Bandung, Solo ,dll. serta berbagai kerusuhan rasial lainnya
Beberapa contoh kerusuhan rasial yang terjadi yaitu :
Bandung, 10 Mei 1963
Kerusuhan anti suku peranakan Tionghoa terbesar di Jawa Barat. Awalnya, terjadi keributan di kampus Institut Teknologi Bandung antara mahasiswa pribumi dan non-pribumi. Keributan berubah menjadi kerusuhan yang menjalar ke mana-mana, bahkan ke kota-kota lain seperti Yogyakarta, Malang, Surabaya, dan Medan.
Pekalongan, 31 Desember 1972
Terjadi keributan antara orang-orang Arab dan peranakan Tionghoa. Awalnya, perkelahian yang berujung terbunuhnya seorang pemuda Tionghoa. Keributan terjadi saat acara pemakaman.
Palu, 27 Juni 1973
Sekelompok pemuda menghancurkan toko Tionghoa. Kerusuhan muncul karena pemilik toko itu memakai kertas yang bertuliskan huruf Arab sebagai pembungkus dagangan.
Bandung, 5 Agustus 1973
Dimulai dari serempetan sebuah gerobak dengan mobil yang berbuntut perkelahian. Kebetulan penumpang mobil orang-orang Tionghoa. Akhirnya, kerusuhan meledak di mana-mana.
Ujungpandang, April 1980
Suharti, seorang pembantu rumah-tangga meninggal mendadak. Kemudian beredar desas-desus: Ia mati karena dianiaya majikannya seorang Tionghoa. Kerusuhan rasial meledak. Ratusan rumah dan toko milik suku peranakan Tionghoa dirusak.
Medan, 12 April 1980
Sekelompok mahasiswa USU bersepeda motor keliling kota, sambil memekikkan teriakan anti suku peranakan Tionghoa. Kerusuhan itu bermula dari perkelahian.
Solo, 20 November 1980
Kerusuhan melanda kota Solo dan merembet ke kota-kota lain di Jawa Tengah. Bermula dari perkelahian pelajar Sekolah Guru Olahraga, antara Pipit Supriyadi dan Kicak, seorang pemuda suku peranakan TiongHoa. Perkelahian itu berubah menjadi perusakan dan pembakaran toko-toko milik orang-orang TiongHoa.
Surabaya, September 1986
Pembantu rumah tangga dianiaya oleh majikannya suku peranakan TiongHoa. Kejadian itu memancing kemarahan masyarakat Surabaya. Mereka melempari mobil dan toko-toko milik orang-orang TiongHoa.
Pekalongan, 24 November 1995
Yoe Sing Yung, pedagang kelontong, menyobek kitab suci Alquran. Akibat ulah penderita gangguan jiwa itu, masyarakat marah dan menghancurkan toko-toko milik orang-orang Tiong Hoa.
Bandung, 14 Januari 1996
Massa mengamuk seusai pertunjukan musik Iwan Fals. Mereka melempari toko-toko milik orang-orang TiongHoa. Pemicunya, mereka kecewa tak bisa masuk pertunjukan karena tak punya karcis.
Rengasdengklok, 30 Januari 1997
Mula-mula ada seorang suku peranakan Tiong Hoa yang merasa terganggu suara beduk Subuh. Percekcokan terjadi. Masyarakat mengamuk, menghancurkan rumah dan toko TiongHoa.
Ujungpandang, 15 September 1997
Benny Karre, seorang keturunan Tiong Hoa dan pengidap penyakit jiwa, membacok seorang anak pribumi, kerusuhan meledak, toko-toko TiongHoa dibakar dan dihancurkan.
Februari 1998
Kraksaan, Donggala, Sumbawa, Flores, Jatiwangi, Losari, Gebang, Pamanukan, Lombok, Rantauprapat, Aeknabara: Januari – Anti Tionghua
Kerusuhan Mei 1998
Salah satu contoh kerusuhan rasial yang paling dikenang masyarakat Tionghoa Indonesia yaitu Kerusuhan Mei 1998. Pada kerusuhan ini banyak toko-toko dan perusahaan-perusahaan dihancurkan oleh amuk massa — terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa. Konsentrasi kerusuhan terbesar terjadi di Jakarta, Bandung, dan Solo. Terdapat ratusan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan mengalami pelecehan seksual dalam kerusuhan tersebut. Sebagian bahkan diperkosa beramai-ramai, dianiaya secara sadis, kemudian dibunuh. Dalam kerusuhan tersebut, banyak warga Indonesia keturunan Tionghoa yang terbunuh, terluka, mengalami pelecehan seksual, penderitaan fisik dan batin serta banyak warga keturunan Tionghoa yang meninggalkan Indonesia.
Sampai bertahun-tahun berikutnya Pemerintah Indonesia belum mengambil tindakan apapun terhadap nama-nama besar yang dianggap provokator kerusuhan Mei 1998. Bahkan pemerintah mengeluarkan pernyataan berkontradiksi dengan fakta yang sebenarnya yang terjadi dengan mengatakan sama sekali tidak ada pemerkosaan massal terhadap wanita keturunan Tionghoa disebabkan tidak ada bukti-bukti konkret tentang pemerkosaan tersebut.
Sebab dan alasan kerusuhan ini masih banyak diliputi ketidakjelasan dan kontroversi sampai hari ini. Namun demikian umumnya orang setuju bahwa peristiwa ini merupakan sebuah lembaran hitam sejarah Indonesia, sementara beberapa pihak, terutama pihak Tionghoa, berpendapat ini merupakan tindakan pembasmian orang-orang tersebut.
5-8 Mei 1998
Medan, Belawan, Pulobrayan, Lubuk-Pakam, Perbaungan, Tebing-Tinggi, Pematang-Siantar, Tanjungmorawa, Pantailabu, Galang, Pagarmerbau, Beringin, Batangkuis, Percut Sei Tuan: Ketidakpuasan politik yang berkembang jadi anti Tionghoa.
Jakarta, 13-14 Mei 1998
Kemarahan massa akibat penembakan mahasiswa Universitas Trisakti yang dikembangkan oleh kelompok politik tertentu jadi kerusuhan anti Cina. Peristiwa ini merupakan persitiwa anti Cina paling besar sepanjang sejarah Republik Indonesia. Sejumlah perempuan keturunan Tionghoa diperkosa.
Solo, 14 Mei 1998 Ketidakpuasan politik yang kemudian digerakkan oleh kelompok politik tertentu menjadi kerusuhan anti Tionghua.
Langganan:
Postingan (Atom)
