Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Juli 2011

Tiga Kerajaan (Tiga Dinasti)

Menjelang akhir dinasti Han, yang merupakan salah satu dinasti terlama di antara dinasti-dinasti lain di China, tiga buah negara yaitu Wei, Wu dan Shu berkompetisi satu dengan yang lain berebut kekuasaan. Cao Cao, yang menjadi penguasa Wei adalah yang paling kuat di antara ketiganya dan mendominasi daerah utara. Dia juga menjadi perdana menteri kekaisaran Han yang sepenuhnya mengontrol raja muda dinasti Han. Dengan menggunakan nama raja, dia memberi perintah dan menyerang mereka yang tidak mematuhinya. Dia bermaksud unuk menghancurkan negara Shu dan Wu dan memperluas kekuasaannya ke seluruh China. Sebagai orang yang bermuka dua, Cao Cao tidak hanya seorang prajurit profesional yang baik tetapi juga seorang yang berpendidikan. Tetapi dia sangat kejam, tidak setia dan penuh curiga. Motonya yang terkenal adalah: “Lebih baik saya mengkhianati seluruh dunia daripada membiarkan seluruh dunia mengkhianati saya.”

Penguasa Wu adalah Sun Quan, keturunan jenderal Sun Tzu yang terkenal yang menulis buku Seni Perang. Keluarga Sun menguasai muara Sungai Yangtze selama bertahun-tahun. Sun Quan menolak untuk menyerah kepada Cao Cao tanpa perlawanan, tetapi pasukannya tidak sekuat pasukan Cao Cao.

Yang paling lemah di antara ketiganya adalah Shu, penguasanya adalah Liu Bei. Liu adalah keturunan ningrat dinasti Han yang menguasai China antara 206 S.M. sampai 220 M. Liu adalah seorang yang baik, simpatik, dan sederhana, tidak terlalu pandai ataupun berbakat, tetapi dia mendapatkan simpati dari rakyat kebanyakan. Dia dan kedua saudara angkatnya telah mengabdikan diri mereka untuk menciptakan kedamaian dan mengembalikan kekuasaan dinasti Han di China. Upayanya mendapat dukungan yang luar biasa ketika Zhuge Liang bergabung dengannya beberapa tahun kemudian setelah dia bangkit dan berperang melawan Cao Cao.

Zhuge Liang adalah orang dengan bakat yang sangat unik. Dia sedang menyepi ketika Liu Bei mengunjunginya. Baru pada kunjungan ketigalah Liu berhasil bertemu dengannya dan membujuknya untuk bekerja untuknya. Pengetahuan Zhuge Liang tentang politik, strategi militer, ilmu fisika, dan psikologi manusia tak tertandingi pada zamannya. Pada waktu itu, Cao Cao telah memenangkan perang strategi melawan Liu Bei di China tengah. Analisis Zhuge Liang tentang situasi politik dan militer mencelikkan mata dan pikiran Liu Bei yang selalu meraba dalam gelap sejak kekalahannya. Zhuge menjadi perantara terbentuknya hubungan antara Shu dan Wu.

Periode ini disebut periode Tiga Kerajaan dalam sejarah China, dan menjadi zaman yang paling menarik dalam sejarah China.

Untuk lebih memahaminya silahkan menonton film ini... ^^



Selasa, 14 Juni 2011

Yap Thiam Hien

Yap Thiam Hien (* 25 May 1913 in Kutaraja, Aceh, Dutch East Indies; † 29 April 1989 in Brussels) His father was Yap Sin Eng and his mother was Hwan Tjing Nio. He was one of the most notable people from Chinese heritage in Indonesia. As an advocate, he always fought for human rights, he realized that defense of minority rights made sense only as part of the larger struggle for the rights of all citizens. in the journal Indonesia
''
Yap moved from place to place when he was young to pursue his studies. He obtained the Meester de Rechten degree from Faculty of Law, Leiden University, Netherlands in 1947. He returned to Indonesia and started his career as lawyer in Jakarta. In 1950, he opened a law firm together with John Karwin,and later joined the firm of Lie Hwee Yoe. He opened his own law firm in 1970. Since then, he has fought for human rights and for justice and equality for ethnic minorities and the poor. He was one of the founding members of PERADIN (Persatuan Advokat Indonesia) and served as the leader.
Together with Buyung Nasution, Yap was one of the founders of Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), formerly known as Lembaga Bantuan Hukum (LBH), which was a legal aid society to help the poor.
In order to fight discriminative action toward Indonesian Chinese, in 1954 Yap was an early member of BAPERKI (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia), a n organization originally dedicated to obtaining citizenship for ethnic Chinese. After the 1965 fall of the Soekarno regime,BAPERKI was a accused of having links with the PKI and was banned by the new Suharto regime.

source http://www.facebook.com/pages/Yap-Thiam-Hien/138795832814464

Jumat, 10 Juni 2011

KAWASAN CINA YANG TERINDAH

           Kebudayaan Cina cukup berperan dalam membentuk wilayah Jakarta. Kawasan pemukiman Cina di Jakarta Kota merupakan asset kebudayaan tersendiri yang juga mempunyai potensi sebagai objek wisata.
            Menurut sejarah, kawasan itu terbentuk setelah terjadinya pembunuhan besar-besaran terhadap orang Cina oleh Belanda pada 1740. Kawasan luar benteng yang merupakan pemukiman pribumi menjadi tempat pelarian orang Cina. Belanda kemudian mengumpulkan orang Cina dalam satu kawasan yang kini menjadi Glodok.
            Sampai sekarang daerah itu seperti Jl. Perniagaan, Pejagalan, Bandengan, Jalan Toko Tiga, Jalan Blandongan, merupakan kawasan yang kaya akan bangunan berarsitektur Cina dari abad 18-19. Tapi kawasan ini bisa dikatakan paling terbengkalai, bahkan wajahnya nyaris porak poranda. Di kawasan ini tampaknya kepentingan ekonomi lebih mendominasi daripada kepentingan budaya.


Bangunan Lagam Cina
      
            Bangunan tua dengan arsitektur gaya Cina terletak di jalan K.H.M. Mansyur, Toko Tiga Seberang dan jalan Pekojan kecamatan Tambora. Dari aspek kesejarahan, bangunan ini memperlihatkan salah satu unsur struktur komposisi masyarakat yang ada pada masa lalu. Lokasi bangunan ini dan lingkungan sekitarnya merupakan wilayah pemukiman orang-orang Tionghoa yang umumnya sebagai pedagang, tuan tanah, penarik pajak dan lain-lain yang mendapat perlindungan dari penguasa VOC.


Gedung Candra Naya

            Gedung Candranaya terletak di jalan Gajah Mada No. 188, merupakan bangunan tua yang cukup bersejarah dan dibangun sekitar abad ke19 denan gaya arsitektur Cina. Gedung ini semula milik tuan tanah Khouw Tian Sek. Gedung yang bernama asli Sin Ming Hui ini sejak tahun 1946 berfungsi sebagai tempat kegiatan sosial, antar lain sebagai rumah sakit, universitas, tempat organisasi, tempat latihan olahraga, tempat perkumpulan fotografi, dan sebagainya.
            Periode sebagi tempat tinggal adalah yang paling banyak meninggalkan jejak, bila kita melangkah ke dalam ruang-ruangnya, melihat tata letak ruangan, struktur, dan ragam hiasnya, akan tergambar suatu kisah kehidupan Tionghoa kelas atas di Batavia pada masa seratus tahun yang lalu.
            Gedung keluarga yang berada di jalan Gajah Mada dulu disebut sebagai kawasan Molenvliet, dimana kawasan ini pada masa itu merupakan kawsan elit seperti halnya kawasan Pondok Indah saat ini.

Senin, 06 Juni 2011

Tahukah Kamu?!


Kawasan Senayan mulai banyak dikenal sejak didirikan gelanggang olahraga bertaraf internasional dengan nama Gelora Bung Karno, yang dibangun awal 1960-an atas bantuan Uni Sovyet pada zaman PM Nikita Kruschev. Ada yang menyatakan PM Uni Soviet ini kecewa karena tidak ada tanda-tanda prasasti yang menyebutkan Uni Soviet-lah yang membangunnya.

Senayan, dengan luas 270 hektar, dalam bahasa Betawi berarti senenan — jenis permainan berkuda. Nama itu diperkirakan muncul sejak Masda Inggris, Thomas Raffles (1808-1811), menjadikannya sebagai tempat warga Inggris bermain polo, mengingat warga negara itu sangat menggemari permainan berkuda.

Berdasarkan peta yang diterbitkan oleh Topographisch Bureau Batavia, tahun 1902, nama kawasan Senayan masih ditulis Wangsanajan, atau Wangsanayan menurut Ejaan Yang Diperbaharui. Kata wangsanayan dapat berarti ‘tanah tempat tinggal’ atau tanah milik sesorang bernama Wangsanaya. Lambat laun nama itu berubah jadi Senayan.

Kawasan sekitar Senayan, yang dulu menjadi tempat tinggal warga Betawi, kini berubah menbjadi pusat kegiatan bisnis dan perhotelan. Hingga pada tahun 1990-an, pada masa Orde Baru, ada kelompok yang berambisi untuk memindahkan 
gelanggang olahraga ini ke Cengkareng. Untungnya tidak kesampean, karena terhalang krisis moneter

source: duniaagus.blogspot.com

SEJARAH BACANG

Bacang berasal dari tokoh Qu Yuan (343 - 289 SM). Qu Yuan adalah seorang sastrawan terkemuka dari kerajaan Chu. bukunya sangat laris dan terkenal. salah satunya adalah Chun Tzu (Ratapan Negeri Tzu) dan Li Sao (Menapaki Kesedihan). selain itu , ia juga dikenal sebagai menteri yang terpercaya dan setia. 

Karena kepopulerannya itu, rekan rekannya menjadi iri dan berusaha menyingkirkan dia. rekannya adalah para penjilat kekuasaan yang bermanis-m,anis di depan raja dan berusaha menjatuhkan kerajaan Chu dan lebur dalam kerajaan Chin.Qu Yuan tidak mau ikut dengan konspirasi itu sehingga rekan rekannya semakin membencinya.

Pada suatu kesempatan, para menteri menekan tim dokter untuk menyatakan pantang garam bagi raja yang sedang sakit. akibatnya raja menjadi semakin sakit dan hanya bisa terbaring . mengetahui adanya komplotan ini, Qu Yuan diam diam membungkus garam dalam daun bambu dengan 4 kerucut, lalu mengantung bungkusan itudi langit langit ranjang raja dengan maksud agar air garam itu menetes sedikit demi sedikit diatas mulut raja supaya kesehatan raja pulih kembali.

Ketika hal itu di ketahui, Qu Yuan malah dituduh meracuni raja. kerana tidak mau berurusan dengan pengadilan, lalu ia bunuh diri dengan menceburkan diri ke sungai Mi Lou. Mendengar berita ini, rakyat menjadi sedih dan mencari jenazah Qu Yuan.Mereka juga melemparkan nasi yang dibungkus empat untuk dimakan ikan agak tidak menggigit tubuh Qu Yuan. Mereka juga menabuh genderang di perahu untuk mengusir roh roh naga jahat yang bisa mengganggu Qu Yuan.

Peristiwa ini dikenang tiap tahun dengan perayaan peh chun (bacang). perayaan ini ditandai dengan perlombaan perahu naga (dragon boat) yang diawaki sekitar 2o puluh orang pendayung yang duduk berpasangan dan mendayung mengikuti ritme genderang dan tradisi ini juga ditandai dengan makan bacang.

keempat kerucutnya melambangkan Qu-Yuan Setia-Percaya
bacang adalah lambang penghormagtan karakter kepercayaan .

BACANG!!! yaiy!!

Zongzi (atau Zong) (Chinese: 粽子) adalah makanan tradisional Cina, terbuat dari beras ketan diisi dengan isi yang berbeda dan dibungkus dengan daun bambu atau buluh. Mereka dikukus atau direbus. Mereka dikenal dalam bahasa Jepang sebagai chimaki. Laos, Thailand, dan Kamboja (dikenal sebagai Nom Asom) juga memiliki makanan tradisional yang sama. Di dunia Barat, mereka juga dikenal sebagai kue beras atau tamales Cina. Di Indonesia, mereka dikenal sebagai bakcang atau Bacang (Cina: 肉粽; Peh-oe-ji: bah-chang), sebuah loanword dari Hokkian, dialek Tionghoa yang umum digunakan antara Indonesia-China selain Mandarin.Sepanjang baris yang sama, zongzi lebih dikenal sebagai Machang di antara warga keturunan cina di filipina



Zongzi secara tradisional dimakan selama Festival Perahu Naga (Mandarin: Peh Cun; Kanton: Tuen Ng) yang jatuh pada hari kelima bulan kelima kalender Tionghoa(sekitar akhir Mei sampai pertengahan Juni), memperingati kematian Qu Yuan, seorang penyair Cina terkenal dari kerajaan Chu yang hidup pada masa Negara Berperang. Dikenal karena patriotismenya, Qu Yuan mencoba gagal untuk memperingatkan raja dan bangsanya melawan ekspansi dari tetangga mereka Qin. Ketika Qin umum Bai Qi mengambil Yingdu, ibukota Chu, di 278 SM, Qu Yuan kesedihan begitu kuat bahwa ia tenggelam sendiri di sungai Miluo setelah menuliskan ini Ratapan untuk Ying. Menurut legenda, paket nasi dilemparkan ke sungai untuk mencegah ikan dari makan tubuh penyair, versi lain menyatakan bahwa zongzi diberikan untuk menenangkan naga yang hidup di sungai.