Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 23 Juli 2011
Selasa, 14 Juni 2011
Yap Thiam Hien
Yap Thiam Hien (* 25 May 1913 in Kutaraja, Aceh, Dutch East Indies; † 29 April 1989 in Brussels) His father was Yap Sin Eng and his mother was Hwan Tjing Nio. He was one of the most notable people from Chinese heritage in Indonesia. As an advocate, he always fought for human rights, he realized that defense of minority rights made sense only as part of the larger struggle for the rights of all citizens. in the journal Indonesia
''
Yap moved from place to place when he was young to pursue his studies. He obtained the Meester de Rechten degree from Faculty of Law, Leiden University, Netherlands in 1947. He returned to Indonesia and started his career as lawyer in Jakarta. In 1950, he opened a law firm together with John Karwin,and later joined the firm of Lie Hwee Yoe. He opened his own law firm in 1970. Since then, he has fought for human rights and for justice and equality for ethnic minorities and the poor. He was one of the founding members of PERADIN (Persatuan Advokat Indonesia) and served as the leader.
Together with Buyung Nasution, Yap was one of the founders of Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), formerly known as Lembaga Bantuan Hukum (LBH), which was a legal aid society to help the poor.
In order to fight discriminative action toward Indonesian Chinese, in 1954 Yap was an early member of BAPERKI (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia), a n organization originally dedicated to obtaining citizenship for ethnic Chinese. After the 1965 fall of the Soekarno regime,BAPERKI was a accused of having links with the PKI and was banned by the new Suharto regime.
source http://www.facebook.com/pages/Yap-Thiam-Hien/138795832814464
''
Yap moved from place to place when he was young to pursue his studies. He obtained the Meester de Rechten degree from Faculty of Law, Leiden University, Netherlands in 1947. He returned to Indonesia and started his career as lawyer in Jakarta. In 1950, he opened a law firm together with John Karwin,and later joined the firm of Lie Hwee Yoe. He opened his own law firm in 1970. Since then, he has fought for human rights and for justice and equality for ethnic minorities and the poor. He was one of the founding members of PERADIN (Persatuan Advokat Indonesia) and served as the leader.
Together with Buyung Nasution, Yap was one of the founders of Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), formerly known as Lembaga Bantuan Hukum (LBH), which was a legal aid society to help the poor.
In order to fight discriminative action toward Indonesian Chinese, in 1954 Yap was an early member of BAPERKI (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia), a n organization originally dedicated to obtaining citizenship for ethnic Chinese. After the 1965 fall of the Soekarno regime,BAPERKI was a accused of having links with the PKI and was banned by the new Suharto regime.
source http://www.facebook.com/pages/Yap-Thiam-Hien/138795832814464
Jumat, 10 Juni 2011
KAWASAN CINA YANG TERINDAH
Kebudayaan Cina cukup berperan dalam membentuk wilayah Jakarta. Kawasan pemukiman Cina di Jakarta Kota merupakan asset kebudayaan tersendiri yang juga mempunyai potensi sebagai objek wisata.
Menurut sejarah, kawasan itu terbentuk setelah terjadinya pembunuhan besar-besaran terhadap orang Cina oleh Belanda pada 1740. Kawasan luar benteng yang merupakan pemukiman pribumi menjadi tempat pelarian orang Cina. Belanda kemudian mengumpulkan orang Cina dalam satu kawasan yang kini menjadi Glodok.
Sampai sekarang daerah itu seperti Jl. Perniagaan, Pejagalan, Bandengan, Jalan Toko Tiga, Jalan Blandongan, merupakan kawasan yang kaya akan bangunan berarsitektur Cina dari abad 18-19. Tapi kawasan ini bisa dikatakan paling terbengkalai, bahkan wajahnya nyaris porak poranda. Di kawasan ini tampaknya kepentingan ekonomi lebih mendominasi daripada kepentingan budaya.
Bangunan Lagam Cina
Bangunan tua dengan arsitektur gaya Cina terletak di jalan K.H.M. Mansyur, Toko Tiga Seberang dan jalan Pekojan kecamatan Tambora. Dari aspek kesejarahan, bangunan ini memperlihatkan salah satu unsur struktur komposisi masyarakat yang ada pada masa lalu. Lokasi bangunan ini dan lingkungan sekitarnya merupakan wilayah pemukiman orang-orang Tionghoa yang umumnya sebagai pedagang, tuan tanah, penarik pajak dan lain-lain yang mendapat perlindungan dari penguasa VOC.
Gedung Candra Naya
Gedung Candranaya terletak di jalan Gajah Mada No. 188, merupakan bangunan tua yang cukup bersejarah dan dibangun sekitar abad ke19 denan gaya arsitektur Cina. Gedung ini semula milik tuan tanah Khouw Tian Sek. Gedung yang bernama asli Sin Ming Hui ini sejak tahun 1946 berfungsi sebagai tempat kegiatan sosial, antar lain sebagai rumah sakit, universitas, tempat organisasi, tempat latihan olahraga, tempat perkumpulan fotografi, dan sebagainya.
Periode sebagi tempat tinggal adalah yang paling banyak meninggalkan jejak, bila kita melangkah ke dalam ruang-ruangnya, melihat tata letak ruangan, struktur, dan ragam hiasnya, akan tergambar suatu kisah kehidupan Tionghoa kelas atas di Batavia pada masa seratus tahun yang lalu.
Gedung keluarga yang berada di jalan Gajah Mada dulu disebut sebagai kawasan Molenvliet, dimana kawasan ini pada masa itu merupakan kawsan elit seperti halnya kawasan Pondok Indah saat ini.
Senin, 06 Juni 2011
Tahukah Kamu?!
Kawasan Senayan mulai banyak dikenal sejak didirikan gelanggang olahraga bertaraf internasional dengan nama Gelora Bung Karno, yang dibangun awal 1960-an atas bantuan Uni Sovyet pada zaman PM Nikita Kruschev. Ada yang menyatakan PM Uni Soviet ini kecewa karena tidak ada tanda-tanda prasasti yang menyebutkan Uni Soviet-lah yang membangunnya.
Senayan, dengan luas 270 hektar, dalam bahasa Betawi berarti senenan — jenis permainan berkuda. Nama itu diperkirakan muncul sejak Masda Inggris, Thomas Raffles (1808-1811), menjadikannya sebagai tempat warga Inggris bermain polo, mengingat warga negara itu sangat menggemari permainan berkuda.
Berdasarkan peta yang diterbitkan oleh Topographisch Bureau Batavia, tahun 1902, nama kawasan Senayan masih ditulis Wangsanajan, atau Wangsanayan menurut Ejaan Yang Diperbaharui. Kata wangsanayan dapat berarti ‘tanah tempat tinggal’ atau tanah milik sesorang bernama Wangsanaya. Lambat laun nama itu berubah jadi Senayan.
Kawasan sekitar Senayan, yang dulu menjadi tempat tinggal warga Betawi, kini berubah menbjadi pusat kegiatan bisnis dan perhotelan. Hingga pada tahun 1990-an, pada masa Orde Baru, ada kelompok yang berambisi untuk memindahkan
gelanggang olahraga ini ke Cengkareng. Untungnya tidak kesampean, karena terhalang krisis moneter
source: duniaagus.blogspot.com
SEJARAH BACANG
Bacang berasal dari tokoh Qu Yuan (343 - 289 SM). Qu Yuan adalah seorang sastrawan terkemuka dari kerajaan Chu. bukunya sangat laris dan terkenal. salah satunya adalah Chun Tzu (Ratapan Negeri Tzu) dan Li Sao (Menapaki Kesedihan). selain itu , ia juga dikenal sebagai menteri yang terpercaya dan setia.
Karena kepopulerannya itu, rekan rekannya menjadi iri dan berusaha menyingkirkan dia. rekannya adalah para penjilat kekuasaan yang bermanis-m,anis di depan raja dan berusaha menjatuhkan kerajaan Chu dan lebur dalam kerajaan Chin.Qu Yuan tidak mau ikut dengan konspirasi itu sehingga rekan rekannya semakin membencinya.
Pada suatu kesempatan, para menteri menekan tim dokter untuk menyatakan pantang garam bagi raja yang sedang sakit. akibatnya raja menjadi semakin sakit dan hanya bisa terbaring . mengetahui adanya komplotan ini, Qu Yuan diam diam membungkus garam dalam daun bambu dengan 4 kerucut, lalu mengantung bungkusan itudi langit langit ranjang raja dengan maksud agar air garam itu menetes sedikit demi sedikit diatas mulut raja supaya kesehatan raja pulih kembali.
Ketika hal itu di ketahui, Qu Yuan malah dituduh meracuni raja. kerana tidak mau berurusan dengan pengadilan, lalu ia bunuh diri dengan menceburkan diri ke sungai Mi Lou. Mendengar berita ini, rakyat menjadi sedih dan mencari jenazah Qu Yuan.Mereka juga melemparkan nasi yang dibungkus empat untuk dimakan ikan agak tidak menggigit tubuh Qu Yuan. Mereka juga menabuh genderang di perahu untuk mengusir roh roh naga jahat yang bisa mengganggu Qu Yuan.
Peristiwa ini dikenang tiap tahun dengan perayaan peh chun (bacang). perayaan ini ditandai dengan perlombaan perahu naga (dragon boat) yang diawaki sekitar 2o puluh orang pendayung yang duduk berpasangan dan mendayung mengikuti ritme genderang dan tradisi ini juga ditandai dengan makan bacang.
keempat kerucutnya melambangkan Qu-Yuan Setia-Percaya
bacang adalah lambang penghormagtan karakter kepercayaan .
BACANG!!! yaiy!!
Zongzi (atau Zong) (Chinese: 粽子) adalah makanan tradisional Cina, terbuat dari beras ketan diisi dengan isi yang berbeda dan dibungkus dengan daun bambu atau buluh. Mereka dikukus atau direbus. Mereka dikenal dalam bahasa Jepang sebagai chimaki. Laos, Thailand, dan Kamboja (dikenal sebagai Nom Asom) juga memiliki makanan tradisional yang sama. Di dunia Barat, mereka juga dikenal sebagai kue beras atau tamales Cina. Di Indonesia, mereka dikenal sebagai bakcang atau Bacang (Cina: 肉粽; Peh-oe-ji: bah-chang), sebuah loanword dari Hokkian, dialek Tionghoa yang umum digunakan antara Indonesia-China selain Mandarin.Sepanjang baris yang sama, zongzi lebih dikenal sebagai Machang di antara warga keturunan cina di filipina
Zongzi secara tradisional dimakan selama Festival Perahu Naga (Mandarin: Peh Cun; Kanton: Tuen Ng) yang jatuh pada hari kelima bulan kelima kalender Tionghoa(sekitar akhir Mei sampai pertengahan Juni), memperingati kematian Qu Yuan, seorang penyair Cina terkenal dari kerajaan Chu yang hidup pada masa Negara Berperang. Dikenal karena patriotismenya, Qu Yuan mencoba gagal untuk memperingatkan raja dan bangsanya melawan ekspansi dari tetangga mereka Qin. Ketika Qin umum Bai Qi mengambil Yingdu, ibukota Chu, di 278 SM, Qu Yuan kesedihan begitu kuat bahwa ia tenggelam sendiri di sungai Miluo setelah menuliskan ini Ratapan untuk Ying. Menurut legenda, paket nasi dilemparkan ke sungai untuk mencegah ikan dari makan tubuh penyair, versi lain menyatakan bahwa zongzi diberikan untuk menenangkan naga yang hidup di sungai.
Langganan:
Postingan (Atom)


